MotoGP Mania – Usai MotoGP
Jerman, peluang Dani Pedrosa
untuk merebut mahkota juara
MotoGP 2010 kembali terbuka.
Bukan cuma karena rider Repsol
Honda itu sukses memperkecil
selisih poinnya di kelasemen
sementara (dari 52 jadi 47),
tetapi juga lantaran di sirkuit
Sachsenring itu Pedrosa berhasil
mengalahkan pimpinan
kelasemen sementara, Jorge
Lorenzo, lewat duel head to
head. Namun perjuangan rider
Spanyol itu untuk menyingkirkan
Lorenzo dari puncak kelasemen
bukanlah perkara mudah,
Pedrosa harus selalu finish di
depan Lorenzo. Celakanya, finish
terburuk Lorenzo hingga
pertengahan musim adalah di
posisi runner-up. So, nggak ada
pilihan lain buat rider mungil itu
selain harus menang sebanyak-
banyaknya di 10 seri yang
tersisa. Perjuangan berat itu
harus dimulai dari MotoGP
Amerika.
pedrosa fans Pedrosa Mulai
Tertekan
Sayangnya, perjuangan rider
bernomor 26 itu berakhir di
gravel sirkuit Laguna Seca pada
lap ke-12. Pedrosa pun secara
jujur mengakui semua itu
lantaran under serious pressure.
Sesuatu yang wajar mengingat
beban berat yang dipikul
Pedrosa. Selain tuntutan wajib
menang, beberapa hal berikut
juga berperan menambah beban
mental rider yang baru-baru ini
mampir ke Indonesia.
Menurunnya Performa Ducati
Setengah musim sudah berlalu,
performa Ducati masih jauh dari
yang ditunjukkannya di musim-
musim sebelumnya. Dengan
keadaan ini maka lawan Pedrosa
mestinya hanya dua rider Fiat
Yamaha, Valentino Rossi dan
Jorge Lorenzo.
The Doctor Istirahat
Lawan Pedrosa semakin
mengerucut setelah The Doctor
harus beristirahat akibat cedera
kaki dan bahu. So, lawan Pedrosa
tinggal Jorge Lorenzo.
Lorenzo adalah “Adik Kelas”
Pedrosa dan Lorenzo sama-sama
berasal dari Spanyol. Pedrosa
naik ke MotoGP dua tahun lebih
dulu dari X-Fuera. Kalah dari
Lorenzo tentu jauh lebih
menyakitkan dibandingkan
dikalahkan oleh Valentino Rossi
atau Casey Stoner.
Kehadiran Stoner di HRC Musim
Depan
Keputusan HRC menggaet juara
dunia MotoGP 2007 di musim
2011 menambah beban buat
Pedrosa. Memang sih posisinya
di Team Repsol Honda rasanya
tidak mungkin digeser oleh
siapapun mengingat Pedrosa
mendapat dukungan penuh dari
Repsol yang jadi sponsor utama
Honda. Namun dipilihnya Stoner
bisa mengindikasikan bahwa
Honda mulai meragukan posisi
Pedrosa sebagai leader team
berlogo sayap itu.
Nah.., latar belakang itulah yang
membuat Dani Pedrosa memikul
beban mental yang berat. Hanya
ada dua kemungkinan saat
seorang rider mengalami hal itu.
Sukses “mengelola” tekanan itu
sebagai sebuah motivasi dan
kekuatan untuk mengalahkan
lawan atau malah kocar-kacir
karena kurang perhitungan dan
memaksakan diri tampil melebihi
kemampuan.
Kini dengan gap 72 poin,
mampukah Pedrosa mengejar
Lorenzo? Bisa saja tapi dengan
syarat, melakukan tekanan balik.
Pedrosa butuh Lorenzo tidak
bisa meraih poin di beberapa
seri, karena walau bisa
menjuarai 9 seri yang tersisa
namun jika Lorenzo selalu finish
dibelakangnya maka usaha
Pedrosa tetap tak akan
menghasilkan gelar juara dunia.
Untuk yang satu ini Pedrosa
nampaknya harus berguru pada
The Doctor. Juara dunia 9 kali itu
punya cara tersendiri untuk
menjebol mental lawannya.
Bukan cuma saat di lintasan tapi
juga diluar lintasan. Rossi
biasanya mengeluarkan
statement yang bisa membuat
merah telinga lawannya. Jika
sudah begitu, sang rival pasti
akan tampil habis-habisan saat
race untuk membuktikan diri
lebih hebat. Hal ini biasanya
justru akan merugikan rider
tersebut karena tampil emosional
dan kurang perhitungan. Max
Biaggi, Sete Gibernau, Casey
Stoner dan Jorge Lorenzo pernah
jadi “korban” taktik Rossi ini.
Namun taktik semacam itu agak
sulit diharapkan dari seorang
anak “manis” dan kalem seperti
Pedrosa. Tapi Pedrosa masih bisa
berharap Rossi mau
melakukannya walau bukan
untuk dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kritik,saran,info tentang pedrosa bisa email ke cinopembalap@gmail.com